Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Bungo masih menjadi “pekerjaan rumah” menahun yang tak kunjung usai. Meski razia terus digencarkan, para pemain di balik layar diduga memiliki jaringan kuat yang membuat penertiban kerap bocor dan tumpul.
Oleh Redaksi Korandjambi.com
BUNGO – Upaya memberantas aktivitas penambangan emas ilegal di Kabupaten Bungo ibarat memutus rantai yang tak berujung. Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, Tim Satgas Zero PETI—gabungan TNI, Polri, dan Pemerintah Daerah—telah melakukan puluhan razia besar-besaran di berbagai titik, mulai dari Kecamatan Rantau Pandan hingga kawasan objek vital Bandara Muara Bungo. Namun, fakta di lapangan menunjukkan aktivitas ini kerap muncul kembali hanya beberapa hari setelah petugas meninggalkan lokasi.
Siapa yang “Bermain”?
Pertanyaan besar mengenai siapa aktor utama di balik aktivitas ini kian mengemuka. Berdasarkan laporan dan pantauan di lapangan, sulitnya pemberantasan PETI di Bungo tidak lepas dari beberapa faktor krusial:
- Dugaan Keterlibatan Pemodal Besar & Alat Berat: Aktivitas PETI kini tidak lagi sekadar menggunakan rakit dompeng tradisional, melainkan sudah menggunakan alat berat jenis ekskavator. Beberapa unit alat berat merek Hyundai dan Sunward sempat diamankan di wilayah Jujuhan dan Sirih Sekapur. Dugaan munculnya nama-nama pengusaha lokal sebagai pemilik modal terus menyeruak di tengah masyarakat.
- Benteng Perlawanan Masyarakat: Fenomena pengadangan aparat oleh warga sering terjadi, seperti yang terpantau di Desa Sungai Telang dan Rantau Duku. Bagi sebagian warga, PETI dianggap sebagai satu-satunya tumpuan ekonomi, sehingga mereka kerap dimobilisasi untuk menghadang razia agar alat-alat berat tidak disita.
- Informasi Razia yang Kerap Bocor: Penertiban tahap kedua di beberapa lokasi seringkali nihil hasil karena informasi sudah bocor lebih dulu. Operator alat berat dan pemilik modal biasanya langsung menyembunyikan peralatan mereka di dalam hutan atau lokasi tersembunyi sesaat sebelum tim gabungan tiba.
- Dugaan “Beking” Oknum Aparat & Pejabat: Isu keterlibatan oknum dari berbagai instansi—mulai dari aparat desa hingga aparat penegak hukum—menjadi rahasia umum yang memperumit keadaan. Kapolres Bungo bahkan sempat mengancam akan menyeret anggotanya ke Propam jika terbukti terlibat. Di sisi lain, Bupati Bungo, Dedy Putra, secara tegas membantah tudingan keterlibatan dirinya dan menyebut isu tersebut sebagai hoaks.
Dampak yang Kian Menggila
Kerusakan yang ditimbulkan sudah mencapai tahap kritis. Sungai Batang Bungo yang dahulu menjadi sumber air bersih, kini dilaporkan menghitam dan cokelat pekat akibat sedimentasi lumpur. Selain degradasi lahan, maraknya peredaran narkoba jenis sabu di kalangan pekerja tambang ilegal demi menjaga stamina juga menjadi masalah sosial baru yang mengkhawatirkan.
Pemerintah Kabupaten Bungo dan aparat keamanan kini terus memperketat pengawasan, termasuk memasang spanduk larangan dan menutup pos-pos sekat di wilayah rawan seperti Batin III Ulu. Namun, tanpa keberanian untuk menyentuh “bos besar” di balik layar, pemberantasan PETI di Bungo dikhawatirkan hanya akan menjadi seremoni tahunan tanpa solusi permanen.
Sesuai dengan data dan pantauan terkini, berikut adalah rincian titik-titik yang masih terindikasi marak aktivitas PETI di Kabupaten Bungo.
Rincian Titik Rawan Aktivitas PETI di Kabupaten Bungo (Update 2026)
- Kawasan Objek Vital Bandara Muara Bungo
- Lokasi: Area sekitar landasan pacu dan aliran sungai di pinggiran bandara.
- Status: Sangat rawan karena mengancam struktur tanah bandara. Meskipun sering dirazia, aktivitas dompeng darat sering muncul kembali pada malam hari.
- Kecamatan Batin III Ulu
- Titik Fokus: Desa Senamat Ulu dan Desa Sungai Telang.
- Modus: Penggunaan alat berat ekskavator di dalam kawasan hutan produksi dan hutan lindung. Akses jalan menuju lokasi ini sering dijaga ketat oleh oknum warga/informan (cepu) sehingga razia mudah bocor.
- Kecamatan Rantau Pandan
- Titik Fokus: Desa Rantau Duku dan sekitar aliran Sungai Batang Bungo.
- Modus: Rakit dompeng di sepanjang sungai. Di wilayah ini, penolakan warga terhadap aparat cukup tinggi karena ketergantungan ekonomi yang kuat.
- Kecamatan Jujuhan & Jujuhan Ilir
- Titik Fokus: Perbatasan dengan Sumatera Barat (Dharmasraya) dan kawasan Sirih Sekapur.
- Modus: Alat berat sering bergerak berpindah-pindah melintasi batas provinsi untuk menghindari kejaran Satgas di Jambi.
- Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang
- Titik Fokus: Kawasan aliran sungai kecil di dalam perkebunan sawit.
- Modus: PETI pola “darat” di mana mereka menggali lubang-lubang besar di tengah kebun sawit pribadi maupun perusahaan, yang sulit terlihat dari jalan lintas.
- Kecamatan Pelepat
- Titik Fokus: Dusun Batu Kerbau dan sekitarnya.
- Status: Area ini dikenal sebagai zona merah karena sering terjadi konflik fisik antara aparat dan pekerja tambang.
Edisi selanjutnya Investigasi KoranDjambi.com:
Untuk mengungkap “siapa yang bermain”, redaksi akan menelusuri rantai pasokan bahan bakar solar subsidi yang masuk ke lokasi-lokasi tersebut. Alat berat tidak mungkin beroperasi tanpa suplai BBM dalam jumlah besar yang rutin dikirim melalui jalan-jalan tikus.
UNDANG-UNDANG PERS DAN HAK JAWAB
Redaksi Pemayung.com berkomitmen menjalankan amanah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Sesuai dengan Pasal 5 ayat (2) dan (3), kami menghormati Hak Jawab dan Hak Koreksi bagi setiap individu atau lembaga yang merasa dirugikan oleh pemberitaan ini. Bagi pihak-pihak yang disebutkan, termasuk Pemerintah Kabupaten Bungo, Polres Bungo, maupun pemilik usaha terkait, dipersilakan memberikan klarifikasi atau tanggapan resmi demi tercapainya informasi yang berimbang dan akurat.
