Korandjambi.com, Merangin. Anggaran raksasa Rp 1,2 miliar dari uang negara seakan menguap sia-sia. Niat hati membangun fasilitas Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) untuk warga Desa Muaro Bantan, Renah Pembarap, Merangin yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Jangankan menikmati air bersih, warga malah disuguhi pemandangan proyek yang hancur sebelum berfungsi.
Kondisi fisik proyek tersebut terbilang memprihatinkan. Bak penampungan air dilaporkan retak parah, pipa-pipa tidak tertanam dengan semestinya, dan jaringan saluran air pecah sebelum fasilitas tersebut sempat dioperasikan secara normal.
Padahal, proyek di bawah naungan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) ini sudah berjalan setahun lamanya. Merujuk pada Nomor Kontrak 005/SP/KGT.PBGSPAMIP/DAK/CK/DPUPR/2025 tertanggal 19 Februari 2025, proyek ini dikerjakan oleh kontraktor CV. Zera Cahaya Mandiri dengan pengawasan dari CV Graf V Tech Consultan.
Mengingat waktu pelaksanaan yang diplot dalam satu tahun anggaran, fasilitas ini semestinya sudah bisa dinikmati warga saat ini.
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) proyek tersebut, Randa, tak menampik adanya kerusakan fisik yang parah. Ia mengaku sudah turun langsung mengecek lokasi bersama kontraktor, konsultan pengawas, dan Kepala Desa setempat.
Menurut Randa, keretakan pada bak penampungan murni disebabkan oleh faktor alam.
“Benar, kami sudah ke lokasi. Kerusakan terjadi karena longsor di area bak penampungan. Posisi bak berada di perbukitan dengan kontur tanah yang rawan longsor, ditambah tingginya curah hujan, sehingga menyebabkan bak retak,” kilah Randa.
Terkait tudingan bahwa air tidak pernah mengalir sama sekali, Randa membantahnya. Ia mengklaim air sempat mengalir saat tahap uji coba, namun rentetan kerusakan membuat aliran terhenti total.
“Air itu sebenarnya pernah mengalir, ada video dari tukang saat uji coba. Tapi karena beberapa pipa pecah, aliran sering terputus. Sudah diperbaiki, dialirkan lagi, pecah lagi. Sampai akhirnya bak penampungan ikut pecah akibat longsor, sehingga sekarang air memang tidak mengalir lagi,” urainya.
Randa menegaskan bahwa proyek miliaran rupiah tersebut saat ini masih dalam masa pemeliharaan. Artinya, seluruh perbaikan mutlak menjadi tanggung jawab pihak kontraktor.
Sempat ada insiden di mana pihak kontraktor sulit dihubungi karena nomor teleponnya tidak aktif. Namun, Randa memastikan komunikasi kini sudah kembali tersambung.
“Sekarang masih masa pemeliharaan. Kontraktor sudah bisa kami hubungi dan berjanji hari Sabtu ini akan turun untuk melakukan perbaikan,” tutupnya.
Di sisi lain, upaya untuk meminta kejelasan dari level pejabat yang lebih tinggi belum membuahkan hasil. Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR, Prasetio Nugroho Ilyas Oo, belum memberikan respons apa pun. Pesan konfirmasi yang dikirimkan melalui WhatsApp terkait amburadulnya kualitas proyek dan lemahnya pengawasan hanya dibiarkan tanpa tanggapan.
Publik kini menanti ketegasan dari dinas terkait. Dengan dana Rp 1,2 miliar yang sudah terkuras, warga Muaro Bantan masih harus bersabar menunggu kepastian kapan mereka benar-benar bisa menikmati fasilitas air bersih tersebut.(*)
Sumber : https://jambidaily.com/2026/02/27/spam-muaro-bantan-rp-12-m-diduga-gagal-fungsi-bak-retak-pipa-tak-tertanam-air-tak-pernah-mengalir/
