KoranDjambi.com, BUNGO – Aliran sungai di Kabupaten Bungo tak lagi menawarkan kesegaran. Di Kecamatan Batin III Ulu dan Rantau Keloyang, deru mesin ekskavator kini lebih nyaring ketimbang gemericik air Batang Senamat, Batang May, dan Batang Tang. Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) skala besar menggunakan alat berat terpantau kian beringas, meninggalkan lubang-lubang menganga dan ekosistem yang sekarat. 

Jejak Kerusakan di Hilir

Penelusuran tim gabungan media bersama Presidium RI 07 mengungkap fakta kelam di lapangan. Para perambah emas ini tak lagi sembunyi-sembunyi; mereka mengeruk badan sungai secara terang-terangan tanpa selembar pun izin resmi. Dampaknya dirasakan langsung oleh warga di wilayah hilir seperti Sikampil, Sungai Beringin, hingga Senamat Ilir.

Air yang dulunya jernih dan menjadi tumpuan konsumsi warga, kini berubah menjadi cokelat pekat dan tercemar. Tak hanya soal warna, habitat ikan sungai yang menjadi sumber protein lokal pun luluh lantak akibat pengerukan liar. Temuan yang lebih mengejutkan adalah adanya pengalihan aliran sungai secara sepihak, menabrak ketetapan resmi Balai Wilayah Sungai (BWS) Jambi.

Beban Jalan dan Aroma Solar Subsidi

Dosa ekologis para pemain PETI ini merembet ke infrastruktur darat. Mobilisasi alat berat menggunakan kendaraan roda 12 dengan beban puluhan ton dilaporkan rutin melintasi jalan kabupaten kelas TP C yang hanya berkapasitas maksimal 10 ton. Hasilnya mudah ditebak: aspal hancur dan akses mobilitas warga terganggu.

Bau amis penyimpangan juga terendus pada pasokan bahan bakar. Aktivitas alat berat yang masif ini diduga kuat menyedot BBM bersubsidi jenis solar, merampas hak masyarakat kecil demi keuntungan segelintir cukong. Bahkan, tekanan dari aktivitas ilegal ini dilaporkan mulai merambah hingga ke wilayah konsesi perusahaan seperti PT CSH.

Tembok Bisu dan Desakan ke Trunojoyo

Saat tim investigasi mencoba melakukan konfirmasi di lokasi, para pengelola dan pemilik modal memilih bungkam. Kebisuan para aktor lapangan ini justru memperkuat dugaan adanya sokongan kuat di belakang mereka yang membuat aktivitas ini seolah tak tersentuh.

Melihat kerusakan yang kian sistematis, tim investigasi bersama masyarakat kini menoleh ke arah aparat penegak hukum. Desakan dialamatkan langsung kepada Kapolri, Kapolda Jambi, hingga Kapolres Bungo. Publik menanti, apakah hukum akan berani mengejar hingga ke pemilik alat berat dan pemodal besarnya, atau tetap membiarkan Batang Senamat terus mengalirkan air bercampur lumpur keserakahan.

Tim Investigasi Redaksi


HAK JAWAB & KLARIFIKASI
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Kepolisian Sektor Rantau Pandan dan Pelepat belum memberikan pernyataan resmi terkait upaya penertiban terbaru di lokasi yang disebutkan. Redaksi terus berupaya menghubungi otoritas terkait untuk memastikan langkah penegakan hukum yang akan diambil.


error: Content is protected !!